Langsung ke konten utama

Observasi 6

Hari ini, saya ingin mengenal lebih jauh anak-anak yang berkarakter audilingual dalam gaya belajarnya. Maka, saya gunakanlah tekhnik bercerita di jam pelajaran tahfizh. Karena sifatnya tanpa perencanaan matang, makanya berceritanya pun tanpa media apapun, hanya mengandalkan intonasi suara dan gesture tubuh.

Isi ceritanya sederhana, tentang ayat yang sedang kami hapal, yakni al-qiyamah ayat 21 -25. Intinya saya hendak mengisahkan tentang sakaratul maut sesuai makna ayat di dalamnya. Untuk membuat suasana lebih kondusif, maka anak-anak duduk di lantai sedangkan saya di kursi untuk bisa melihat semua anak.

Singkat cerita, anak-anak menyimak dengan baik, alhamdulillah. Namun, karena memang pada dasarnya anak-anaknsenang mendengarkan cerita, maka di awal pun anak-anak cukup antusias dan tenang. Namun, seiring jalan tentulah terjadi proses evolusi, hehe. Hanya beberapa anak yang menunjukkan ketertarikan yang sangat baik, dan memproses informasi dengan baik. Beberapa dari mereka itulah yang saya yakini cenderung pada karakter audilingual.

Ceritanya hanya sebentar, tidak lebih dari 10 menit. Karena keterbatasan waktu sehingga saya janjikan melanjutkannya besok, in syaa Allah...

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ketika waktu terasa berlalu dengan cepat,,,"

Inilah kehidupan, semuanya nampak abstrak dan serba seketika. Namun memang begitulah kehidupan... Banyak hal yang terkadang sulit dipahami, sulit juga diterima, bahkan hal-hal yang terjadi seketika. Seperti halnya sebuah perpisahan. namun sepertinya memang sudah sunnatullah, pertemuan disandingkan dengan perpisahan. Dan keduanya tidak mengenal arti toleransi. Jika sudah waktunya, maka di mulailah perguliran kehidupan baru. Tidak peduli dengan pernyataan siap atau tidak siap, tetapi bermain dengan pertimbangan akal serta keadaan. perpisahan memang suatu hal yang sangat berat. Maka dari itulah aku ...

Tantangan 7: website di tengah kegalauan "finansialku.com"

Sebagai seorang ibu baru yang sedang galau antara resign atau lanjut kerja, maka saya mulai banyak mencari info sana sini tentang urusan kerumah tanggaan. Untuk sementara ini, status saya di tempat kerja memang masih cuti, namun menghitung mundur 30 hari perlu ditentukan kembali kerja atau kembali ke rumah mengurus bayi. Biasanya orang yang hendak resign karena galau dengan siapa yang akan menjaga bayi, kalau saya mungkin sedikit berbeda karena ibu sudah bersedia mengasuh cucunya, hanya saja tetao galau karena sejatinya bayi adalah amanah Allah, memintanya tidak sebentar, jika harus diberikan pada orang lain dalam pengasuhan tidakkah saya mengkhianati amanah Allah? Namun, jika satu masalah usai (anggaplah keputusan resign), maka timbul masalah baru bahwasannya pemasukan keluarga akan berkurang sedangkan saya masih memiliki tanggungan sekolah adik. Nah lho, seperti rantai yang tiada putusnya jika ditelisik lebih jauh. Maka dari itu, saya akhir-akhir ini sering membuka website Fi...

Tantangan 10: Aplikasi penunjuk arah "Waze"

Semua orang tentu senang dengan yang namanya jalan-jalan, bahkan bagi beberapa orang senang menyusuri tempat-tempat baru. Namun, ketika arah yang dituju membingungkan maka disitulah kita merasa suasana menjadi menyebalkan. Sama seperti saya. Bersyukurlah punya suami yang cukup mengerti hal ini, maka dia mendownload waze dan menggunakannya sebagai petunjuk arah. Aplikasi ini sama seperti google maps, namun lebih variatif karena memiliki chat bagi sesama pengguna waze. Chat itu berfungsi untuk membantu sesama pengguna waze yang membutuhkan info terkait kepadatan lalu lintas, atau pertanyaan terkait lokasi. Biasanya notifikasi chat ini akan masuk ketika ada yang bertanya. Bagi saya yang baru pertama kali menggunakan aplikasi penunjuk arah ini, cukup takjub menggunakannya, terutama logonya yang lucu. Mudah juga digunakan dan tentunya memiliki keakuratan yang lebih baik dibanding aplikasi penunjuk arah lainnya. Bagi yang suka travelling, dan memerlukan petunjuk arah, aplikasi waze i...