Langsung ke konten utama

Day 8: Intonasi dan suara yang ramah

Sudah menjadi jadwal harian anak-anak kelas sholat zuhur berjamaah di mesjid. Namun, entah kenapa kali ini beberapa anak perempuan menolak berangkat dan menunjukkan demonya dengan tetap bertahan di kelas. Meski sudah azan mereka tidak peduli dan tetap melanjutkan bermain.

Saya, hanya mengamati mereka dengan sesekali mengingatkan sudah azan. Tak banyak kata perintah yang saya ujarkan. Pun ketika iqomat, mereka pun mengabaikannya. Maka, mulailah saya mengajak mereka berbincang. Tak ada omelan, makian, atau nada tinggi. Saya gunakan intonasi dan suara yang ramah pada mereka.

Memang obrolan menjadi alot, wajar, karena kita sedang berdiskusi bukan saling memerintah. Pun, anak-anak kelas 4 sudah pandai berargumen dengan banyaknya ragam stok kosa kata mereka. Meski demikian, intonasi dan suara saya tidak berubah, tetap ramah bahkan lebih ramah.

5 menit setelah iqomat. Sudah tentu mereka pun akan masbuq. Tak masalah bagi saya, karena tujuan utamanya yakni mereka menuju mesjid sebagaimana teman-temannya yang lain.

Awal perbincangan banyak penolakan yang dilontarkan, namun seiring waktu obrolan itu berakhir dengan voting mereka yang akan menjadi imam. Imam masbuq maksudnya. Dan sejurus kemudian mereka pun menuju mesjid, sholat dengan jamaah baru yang mereka buay sendiri.

Saya, menahan senyum melihat mereka.

Yang jelas saya paham bukan karena tak mau sholat di mesjid, hanya saja mereka masih ingin menyelesaikan permainanya sebelum akhirnya mereka menunaikan kewajiban sholat zuhurnya di mesjid.

Dalam proses penerapan teknik komunikasi ini, hal yang paling keliatan untuk saya adalah bahwa anak bergerak dengan kesadarannya, bukan ketakutannya pada orang dewasa. Memang prosesnya akan lama, tapi saya nyaman melakukannya, karena yang utama bagi saya bukanlah ketaatan mereka karena takut, namun ketaatan mereka atas fitrah anak-anaknya...


#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan 10: Aplikasi penunjuk arah "Waze"

Semua orang tentu senang dengan yang namanya jalan-jalan, bahkan bagi beberapa orang senang menyusuri tempat-tempat baru. Namun, ketika arah yang dituju membingungkan maka disitulah kita merasa suasana menjadi menyebalkan. Sama seperti saya. Bersyukurlah punya suami yang cukup mengerti hal ini, maka dia mendownload waze dan menggunakannya sebagai petunjuk arah. Aplikasi ini sama seperti google maps, namun lebih variatif karena memiliki chat bagi sesama pengguna waze. Chat itu berfungsi untuk membantu sesama pengguna waze yang membutuhkan info terkait kepadatan lalu lintas, atau pertanyaan terkait lokasi. Biasanya notifikasi chat ini akan masuk ketika ada yang bertanya. Bagi saya yang baru pertama kali menggunakan aplikasi penunjuk arah ini, cukup takjub menggunakannya, terutama logonya yang lucu. Mudah juga digunakan dan tentunya memiliki keakuratan yang lebih baik dibanding aplikasi penunjuk arah lainnya. Bagi yang suka travelling, dan memerlukan petunjuk arah, aplikasi waze i...

Tantangan 2: Website penunjang kualitas diri "ibupedia.com"

Hari ini adalah hari belajar tentang per-ASI-an bagi saya. Hal ini tentu saja didasari dengan perubahan status sebagai ibu sejak 22 hari yang lalu. Saran dari banyak orang sering kali beragam, maka diperlukan juga waktu bagi diri untuk mencari referensi sendiri. Maka untuk hari saya dan suami menjadi orang tua pembelajar melalui salah satu website bagi banyak orang tua muda yakni  ibupedia.com .  Website tersebut banyak sekali menyajikan info-info terkait dunia kehamilan dan pengasuhan. Disajikan dengan bahasa ringan dan website yang menarik (karena didominasi warna pastel yang saya suka, he'eh) yang tentu saja sangat berguna bagi para orang tua terutama ibu yang sedang menjalani proses kehamilan, karena bahwasannya ada banyak pengetahuan penting tentang mengurus anak sejak hamil, melahirkan, dan setelahnya. Bagi seorang ibu muda yang baru memiliki anak pertama seperti saya, info-info tersebut sangatlah diperlukan. Bagi yang sudah memiliki anak lebih dari satu pun tetap be...

Day 7: bintang dalam diri kita

Masih membahas tentang bintang dalam diri kita, bintang ketiga saya adalah dunia kerajinan tangan (handcrafting). Entah kenapa selalu ada kebahagiaan tersendiri ketika sedang berada di toko craft, atau melihat hasil-hasil cantik dari kerajinan tangan yang dibuat orang lain. Menjahit pun salah satu turunan kerajinan tangan yang saya sukai, uniknya seringkali untuk menjahit hal-hal sederhana saya lebih menikmati menggunakan tangan daripada mesin jahit, misalnya mengecilkan baju. Selain itu, yang sifatnya memerlukan keterampilan tangan menjadi hal yang sangat menantang bagi saya, misalnya menggambar tiga dimensi atau mendesign baik dengan sketsa atau aplikasi gadget. Selain itu, kertas maupun benang warna-warni menjadi incaran utama jika berkunjung ke mall atau toko buku, meskipun pada akhirnya tidak membeli atau bahkan dibeli namun berakhir tergeletak di lemari. Seperti sebuah magnet, hal-hal yang bernuansa kerajinan tangan seringkali menjadi mood booster dikala kejenuhan harian...