Langsung ke konten utama

Day 7: BISA!

Siang ini, saya masih disibukkan dengan kegiatan rapotan, sehingga waktu di kelas dipenuhi bersama laptop bukan lagi bermain bersama anak-anak. Namun, tetiba ada satu anak datang menghampiri saya, anak lelaki namun kami tak cukup dekat, sehingga kaget lah saya ketika dia hadir di hadapan saya untuk bercerita.

Kehadirannya dibarengi dengan rajukannya untuk minta pulang dan minta minum. Saya tentu kaget, namun tidak mungkin mengekspresikannya di depan anak. Kaget karena yang bercerita adalah anak kelas 4 SD yang berusia 10 tahun. Sebelumnya, yang saya temui adalah kebahagiaan dan kebanggaan dari anak-anak kelas akan hari-hari Ramadhan.

Singkat cerita, anak itu mengeluhkan hari-hari puasanya yang dirasa panjang dan sangat melelahkan. Pun dia bercerita selepas pulang sekolah maka yang dilakukannya adalah menghapus dahaga dan laparnya dengan makan dan minum sebagaimana biasanya.

Pertama kali yang saya lakukan adalah tetap menunjukkan ekspresi ramah dengan intonasi lembut dan bersahabat. Tak ada nasehat karena saya paham justru itu akan menjadi virus komunikasi di antara kami. Maka tak heran jika cerita-ceritanya berlanjut dengan kejujurannya tidak berpuasa sejak hari pertama Ramadhan.

Alasannya, karena anak tersebut merasa tidak kuat dan tidak bisa berpuasa sehingga berkali-kali hanya kata-kata tersebutlah yang diutarakan. Saya, tentu tak memarahinya. Berkali-kali saya meminta dia mengatakan kata "BISA" dan kalimat afirmatif lainnya.

Alhasil, anak tersebut mulai tertarik memperbaiki perjalanan hari-hari berpuasanya, meski rasa ragu masih sangat nampak di raut wajahnya. Entah bagaimana harinya besok, namun perubahan semangatnya setidaknya cukup keliatan hari ini. Anggukan 'bisa' nya pun terlihat pelan namun pasti.

Dari teknik komunikasi ini, perubahan yang paling sangat jelas terlihat adalah pada raut wajah anak. Dari yang regresif menjadi progressif. Saya tentu senang akan hal itu, namun entahlah bagaimana hasilnya besok karena sejatinya perkembangan anak pun dominan ditentukan akan pola didik orang tuanya di rumah. Pada akhirnya saya sebagai konselornya hanya bisa mendoakan perubahan baik yang progresif pada dirinya... Bismillah... 😀

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip




Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ketika waktu terasa berlalu dengan cepat,,,"

Inilah kehidupan, semuanya nampak abstrak dan serba seketika. Namun memang begitulah kehidupan... Banyak hal yang terkadang sulit dipahami, sulit juga diterima, bahkan hal-hal yang terjadi seketika. Seperti halnya sebuah perpisahan. namun sepertinya memang sudah sunnatullah, pertemuan disandingkan dengan perpisahan. Dan keduanya tidak mengenal arti toleransi. Jika sudah waktunya, maka di mulailah perguliran kehidupan baru. Tidak peduli dengan pernyataan siap atau tidak siap, tetapi bermain dengan pertimbangan akal serta keadaan. perpisahan memang suatu hal yang sangat berat. Maka dari itulah aku ...

Tantangan 10: Aplikasi penunjuk arah "Waze"

Semua orang tentu senang dengan yang namanya jalan-jalan, bahkan bagi beberapa orang senang menyusuri tempat-tempat baru. Namun, ketika arah yang dituju membingungkan maka disitulah kita merasa suasana menjadi menyebalkan. Sama seperti saya. Bersyukurlah punya suami yang cukup mengerti hal ini, maka dia mendownload waze dan menggunakannya sebagai petunjuk arah. Aplikasi ini sama seperti google maps, namun lebih variatif karena memiliki chat bagi sesama pengguna waze. Chat itu berfungsi untuk membantu sesama pengguna waze yang membutuhkan info terkait kepadatan lalu lintas, atau pertanyaan terkait lokasi. Biasanya notifikasi chat ini akan masuk ketika ada yang bertanya. Bagi saya yang baru pertama kali menggunakan aplikasi penunjuk arah ini, cukup takjub menggunakannya, terutama logonya yang lucu. Mudah juga digunakan dan tentunya memiliki keakuratan yang lebih baik dibanding aplikasi penunjuk arah lainnya. Bagi yang suka travelling, dan memerlukan petunjuk arah, aplikasi waze i...

Tantangan 7: website di tengah kegalauan "finansialku.com"

Sebagai seorang ibu baru yang sedang galau antara resign atau lanjut kerja, maka saya mulai banyak mencari info sana sini tentang urusan kerumah tanggaan. Untuk sementara ini, status saya di tempat kerja memang masih cuti, namun menghitung mundur 30 hari perlu ditentukan kembali kerja atau kembali ke rumah mengurus bayi. Biasanya orang yang hendak resign karena galau dengan siapa yang akan menjaga bayi, kalau saya mungkin sedikit berbeda karena ibu sudah bersedia mengasuh cucunya, hanya saja tetao galau karena sejatinya bayi adalah amanah Allah, memintanya tidak sebentar, jika harus diberikan pada orang lain dalam pengasuhan tidakkah saya mengkhianati amanah Allah? Namun, jika satu masalah usai (anggaplah keputusan resign), maka timbul masalah baru bahwasannya pemasukan keluarga akan berkurang sedangkan saya masih memiliki tanggungan sekolah adik. Nah lho, seperti rantai yang tiada putusnya jika ditelisik lebih jauh. Maka dari itu, saya akhir-akhir ini sering membuka website Fi...